Tuesday, August 10, 2010

China Town in Jakarta

Di hari selasa, bokap gue tiba-tiba merencanakan suatu perjalanan kecil-kecilan. Yup,glodok adalah tempat favoritnya. Namun tempat favorit itu jarang dikunjungi dikarenakan nyokap gue tuh gak seneng sama tempat yg seperti itu,tanpa pendingin ruangan, banyak orang terutama abang-abang, dan yang paleng penting..jauh. Nurut nyokap gue,tempat paling asik tuh yah cuman mall deket rumah. Walaupun udah sering dikunjungi baik sendiri maupun rame-rame,tetap saja itu tempat favoritnya. Saking seringnya, sampai-sampai dia tau di mana letak sayur tomat,deterjen,sampai jumlah gerobak pun tau di salah satu toserba modern dari prancis yang ada dimall tersebut. Namun di hari selasa ini,bokap gue kangen sama china town (glodok), maka dengan dalih membeli bawang putih tunggal yang gak ada di swalayan andalan nyokap gue,berangkatlah kami bertiga.

Jadi setelah mengantar cici gue pergi kerja,pulangnya kami langsung menuju rute glodok dipandu GPS, papan petunjuk jalanan, dan insting bokap, karena rute ke glodok kami mulai dari tempat kerja cici gue(kok jadi bolak-balik yah tulisannya?gapapa deh..biar jelas). Perjalanan yang jauh ditambah kepadatan mobil dijalanan serta kecepatan nyetir gue yang sangat amat aman, maka sampailah kami di glodok kurang lebih 1 jam.

Terakhir kali gue dateng ke glodok tuh sekitar 2 tahun yang lalu, jadi saat pertama kalinya dalam tahun ini saya menginjakan kaki di glodok...wahh,tempat nya seru. Kami bertiga pertama kali disambut lagu khas china town yang kata cici gue tuh lagunya kayak kawinan bokap-bokap dulu atau lagu iringan dimsum. Tapi emang bener sih.

Jadi di glodok tuh,bangunannya masih kayak jaman doloe punya, ada yang atep-nya masih khas china town tapi tetep ada juga yang sudah direnovasi. Tapi hal yang paleng gue inget di glodok tuh, toko obatnya. Gua rasa cuman disini aja ada toko obat yang begitu. Tempat nyimpen obatnya uda kayak kotak pos apartemen aja yang disusun satu dinding penuh. Yang gue bingung sih,ngebersihinnya gimana yah?apa iya di bersihin satu-satu lacinya. Dikamar gue aja yang lacinya cuman tiga biji uda males beresinnya. Minimal setaon sekali tu laci gue beresin. Gimana yang ini, yang kurang lebih ada 60 laci kecil. Kalo gue yang beresin berarti butuh 20 taon buat bikin semuanya bersih.

Selain lacinya, baunya juga khas. Bau obat cina yang terdiri dari akar-akaran hingga daon antik saling berpadu. Pantes aja tu tukang obat keliatan sehat terus, mungkin tiap hari dia nyiumin taneman obat yang bikin dia kuat, ditabrak mobil jangan-jangan gak kenapa-kenapa..mobilnya maksudnya gak kenapa-kenapa, dianya mah yah kenapa-kenapa ^o^.

Abis dari toko obat,kami pun langsung menuju petak sembilan,dimana bawang putih tunggal berada. habis bawwang putih single itu didapatkan,lalu bokap gue ngajak kita bertiga ke candra. Pertama gue bingung, "siapa tuh candra?temennya siapa?". Tapi selidik punya selidik, ternyata candra tuh nama bangunan. Kurang lebih candra tuh kayak taman anggrek versi china town deh. Didalemnya ada toko pernak pernik chinese, jualan vcd tidak original, dan...toko obat lagi. Disini nyokap gue agak sedikit lebih betah,karena ada penyejuk ruangan disini. Jadi jalan-jalannya nyaman. Gak kalah sama mall masa kini, disini juga ada foodcourt nya. Bedanya, disini cuman ada jualan nasi campur aja. Mulai dari nasi campur hongkong, hokkian, sampe tio ciu. Tapi masalahnya, kenapa harus nasi campur semua?gak ada yang laen apa?. Tapi ternyata nyokap gue punya menu sendiri disini. Kami sekeluarga menyebutnya kompyang. Kompyang itu tidak berbentuk peyang(tidak bundar) seperti namanya, tetapi malah berbentuk seperti bakpao. Bakpao versi besar, sebesar roti coklat abang-abang dan tertabur wijen diatasnya, diisi daging dan rumput laut serta yang paling antik. Kompyang itu kerasnya bukan main. Dibutuhkan gigi yang kuat dan rahang seperti macan untuk dapat merobek kuliat kompyang tersebut. Tapi itulah yang membuatnya enak dan jarang ada lagi orang yang membuatnya.
kompyang

Disana, selain kompyang ada lagi yang menarik perhatian. Di kejauhan sana, ada seorang pria yang berambut pirang, ,engenakan rantai kaleng biskuit, dan menggunakan baju full press body banget sedang berdiri didepan salah satu counter nasi campur. Jadi sekilas orang itu mirip dengan salah satu anggota F4, band taiwan ternama. Tapi yang gue liat tuh F4 40 tahun kemudian, yang lebih tampak seperti mafia hongkong. Kata nyokap gue dengan positif, "mungkin kalo tu orang rambutnya biasa aja, bajunya biasa aja, dandanannya biasa aja...gak bakal diliatin sama orang...Jadi gak kenapa dia gitu, lenih eye catching (pusat perhatian)". Yang secara gak langsung akan membuat nasi campurnya berbeda dengan yang lain.

Gak hanya itu saja yang menarik perhatian gue di glodok. Tiba-tiba ada seorang pelayan yang berbeda. Pakaiannya biasa,dandanannya biasa, tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya special. Wow, ternyata dia hanya memiliki satu tangan. Tapi bukan itu yang membuat saya tidak lupa, tapi dia terlihat normal seperi orang biasa yang memiliki dua tangan, dia bisa memberikan menu, dia bisa menarik kursi dan dia bisa melakukan segala sesuatu tanpa harus merasa berbeda.Dia gak mau dirinya dianggap berbeda dan lalu tidak berusaha, dia berjuang dalam hidupnya tampak seperi orang normal. Jadi untuk dapat diperhatikan orang tidak hanya dengan cara penampilan dari luar saja, tapi perbuatan dan semangat yang baik akan membuat dirimu bermanfaat bagi orang lain.

That’s a real fighter.
O_o

No comments:

Post a Comment